Saturday, July 28, 2012

Salah Siapa?



Pucuk daun yang masih belia gugur jatuh menghunjam tanah
Bukan karena sudah kering menua
Bukan menjemput ajal kembali ke pelukan bumi
Bukan pula meranggas di kemarau yang panas
Namun ia memilih layu sebelum menemui takdirnya


Friday, June 29, 2012

Sekilas Renungan


Mentari bersinar terik di tengah hari yang panas. Lalu lintas padat kendaraan seperti biasanya, tetapi tidak sampai macet. Motorku melaju dengan kecepatan standar. Hipoglikemia menyebabkan otak kurang berkonsentrasi disertai sengatan matahari yang menembus pakaian berlapis. Tangan kanan tetap menarik gas, berharap segera tiba di tujuan. Tiba-tiba sebuah truk yang berada agak jauh di depan berhenti. Tampaknya baru saja mengerem mendadak. Aku dan temanku tersentak. Adrenalin terpacu demi membayangkan motor akan menghantam truk itu. Aku dan temanku memiliki pikiran yang sama: pasti akan menabrak.

Thursday, May 10, 2012

Aku Takkan Melupakanmu


Aku sudah lupa kapan tepatnya ia pergi. Ah, bahkan mengingatnya saja amat sangat jarang. Mungkin karena saat ia pergi, usiaku masih terlalu kecil untuk merasa kehilangan. Mungkin juga karena saat-saat yang sering kulalui bersamanya adalah fase di mana memoriku belum bisa menyimpan kenangan seutuhnya. Tapi hari ini, ia berhasil membuatku menangis. Tiba-tiba teringat padanya. Dan rasa bersalah itu perlahan mulai menyesakkan dada. Mengapa diri ini jarang mengingatnya. Padahal ia adalah salah satu orang tua yang sangat menyayangiku, menghabiskan banyak waktunya denganku dibanding cucunya yang lain. Nenek. Hari ini aku sungguh merindukanmu.

Monday, April 2, 2012

Cinta Sang Pujangga


Mudah saja bagi sang pujangga memainkan tinta
Mengungkap isi hati dalam bingkai kata sarat makna
Namun ia tetaplah insan biasa
Mengalah pada rasa yg tak mampu dilukis oleh pena
Cinta….

Monday, January 9, 2012

Sebut Saja, Jalan Lain Menuju Surga

Secercah asa tertuang dalam bingkai kisah
Rusuk kiri milik pujaan hati
Kini kembali pada pemiliknya
Penuhi taqdir Sang Maha Pengasih
Mengalun indah dalam untaian ijab penyeka gundah

Penantian telah tiba di muara
Walau sinar mentari tak lama singgah
Ada rinai hujan yang turut bersuka cita
Dan pelangi yang melengkung indah
Bukan hanya di langit sana
Tapi juga di kedua iris mata